Skip to toolbar

Kenaikan Harga Cabai

Jember – Melonjaknya harga cabai rawit di pasaran disambut positif kalangan petani. Namun, sejatinya kenaikan harga cabai rawit tidak sepenuhnya dinikmati petani. Sebab, harga cabai dari petani ke tengkulak masih kisaran Rp. 42 ribu per kilogram. Padahal harga di pasaran sudah tembus Rp. 100 ribu per kilogram.

Berita selengkapnya pada file scan koran Jawapos hari Minggu, 8 Januari 2017

IMG-20170108-WA0121

COMPETITIVENESS IMPROVEMENT STRATEGY OF SOYBEAN COMMODITY : STUDY OF FOOD SECURITY IN EAST JAVA – INDOONESIA

cover agris online

Competitiveness Improvement Strategy of Soybean Commodity: Study of Food Security in East Java – Indonesia

A. Zainuri1 , A. Wardhono1 , Sutomo2 , J. A. Ridjal3

1 Department of Economics, Faculty of Economics, University of Jember, Indonesia

2 Department of Administrative Science, Faculty of Social and Politic Science, University of Jember, Indonesia

3 Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Jember, Indonesia

Abstract

The increase in soybean prices is caused by an imbalance between the ability to produce soybeans in the country and the increase in demand, so that scarcity of soybean is an issue in an agricultural country like Indonesia. The purpose of this study was to determine the mapping and competitiveness of soybean in East Java, as well as to find out alternative government policies to increase the fair competitiveness of soybean in East Java. Based on the results of the analysis, the recommendation on the most effective policy is the development of competitiveness of local soybean and maintaining the performance of the existing farmer groups, as well as the stabilization of local soybean prices.

Key words Competitiveness, food security, government policy, soybeans.

Introduction
Price fluctuations of soybean commodity become a crucial issue in Indonesia each year. Empirically the increase in soybean prices is caused by the element of scarcity on the supply side, or domestic soybean production is slower compared to the demand (Elizabeth, 2007; Zakaria et al, 2010; Eden et al, 2012). The imbalance between the ability to produce soybeans and the increase in domestic demand has actually occurred within a fairly long period (Adisarwanto, 2008; Nuryanti, Kustiari, 2007). The empowerment efforts to increase soybean production require reorientation on strict and problem-facing policies, for example through the intensification, extensification, and integrated soybean crop diversification (Sumarno, 2010; Suradisastra, 2008). In addition, it is necessary to carry out and in-depth study of the determination
of policies to enrich the knowledge of the various factors that influence farmers’ decisions grow soybeans. Trade liberalization provides new opportunities and challenges in the development
of an agricultural commodity, including soybean (Ahmad, Tawang, 1999; Firdaus et al, 2012).

(download file selengkapnya di agris online paper in economics and informatics )

DAMPAK SISTEM GILING REMELT KARBONATASI TERHADAP KINERJA PG. SEMBORO KABUPATEN JEMBER

DAMPAK SISTEM GILING REMELT KARBONATASI TERHADAP KINERJA PG. SEMBORO KABUPATEN JEMBER

Impact of Carbonatation Remelt Milling System on Performance of Semboro Sugar Factory Jember Regency

 

Anisa Zain, Rudi Wibowo, Julian Adam Ridjal

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Jember

*E-mail : rudi.wibowo@gmail.com

ABSTRACT

Sugarcane (Saccharum officinarum) is a plantation plant of the family Graminae wich has an important role in driving the economy of a region. . Sugarcane is a commodity which can produce important products in Indonesia, namely sugar. Government of the United Indonesia Cabinet II has established the National Sugar Industry Revitalization Program which one of the plans is the PG machine / equipment replacement / modification from the sulfitation process to the carbonatation remelt defecation (or DRK). In BUMN business environment, PG which has applied DRK technology is just one, namely PG Semboro-PTPN XI in order to enhance the PG Semboro performance and to improve the quality of the sugar to be supplied to the industrial sugar market and with hopes that sugar produced could be semi-equivalent with rafination sugar. This study aimed to determine: (1) technical efficiency before and after the implementation of carbonatation remelt system in PG. Semboro, (2) the quality of sugar before and after the implementation of carbonatation remelt system in PG. Semboro, (3) the development of the selling price of sugar before and after the implementation of carbonatation remelt system in PG. Semboro and (4) development strategy of carbonatation remelt milling system in PG. Semboro. Research done at PG. Semboro In Semboro District, Jember Regency. Research method is descryptive, analytical and comparative methods. Sampling method uses non-probability sampling. Sample determination in this study uses judgement sampling. Data analysis used in this study are (1) different test for two paired samples, (2) descriptive analysis, (3) ratio analysis, and (4) analysis of FFA or Field Force Analysis. The analysis results showed that: (1) PG Semboro is technically inefficient when implemented carbonatation remelt system with socre of t-hit of the Mill Extraction (ME) < t-table (0.817 <2.353), t-hit of the Boiling House Recovery (BHR) <ttable (2.060 <2.353), and t-hit of the Overall Recovery (OR) < t-table (1.403 < 2.353), (2) Quality of PG Semboro increases after implemented carbonatation remelt system, (3) the selling price of sugar is financially inefficient after the implementation of carbonatation remelt system which is marked by ratio of sugar selling price with sulfitation milling system is higher than ratio of sugar selling price with carbonatation remelt system. The strongest push factor is arranged operational management, while the strongest obstruct factor is market competition
Keywords : Carbonatation remelt, Technical Efficiency of Sugar Factory, Sugar Quality, Ratio Analysis, Analysis of FFA (Field Force Analysis) .

download file selengkapnya di sini.

Analisis Pendapatan dan Efisiensi Biaya Usahatani Tembakau Maesan 2 di Kabupaten Bondowoso

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI BIAYA USAHATANI TEMBAKAU MAESAN 2 DI KABUPATEN BONDOWOSO

Erryka Aprilia Putri, Anik Suwandari, Julian Adam Ridjal

Abstract

Maesan District is the largest tobacco producer in Bondowoso. The number of tobacco’s rajangan production in Maesan District is 1,311 tons with a total area of 1900 ha. The majority of residents in the Maesan District are planting tobacco. The largest tobacco producer in Maesan District is Gunungsari Village. Types of tobacco plantation in the Gunungsari Village are Tobacco Maesan 2. The study was conducted in the Gunungsari Village Maesan Regency intentionally (purposive method). The sampling method used in this research is the purposive sampling with 30 respondents. The datas used are primary data and secondary data. The analytical methods used are: (1) the analysis of income, and (2) the analysis of R / C ratio. The results shows that: (1) Maesan 2 tobacco farming in the Gunungsari Village Maesan District Bondowoso is beneficial to farmers, with the average income received by the farmers was Rp 12.387.619,90/ha/season; (2) The use of Maesan 2 tobacco farming costs production in the Gunungsari Village, Maesan District Bondowoso has been efficient, with the average of R/C ratio is more than one that is equal to 1.81

PENDAHULUAN

Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan paling konsisten, baik ditinjau dari areal maupun produksi. Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, misalnya dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto. Menurut Maulidah dan Suryawijaya (2010), perkebunan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peran yang cukup besar dalam perekonomian negara Indonesia. Pada tahun 1994-1995, subektor perkebunan telah menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non migas. Salah satu komoditas andalan perkebunan Indonesia adalah tembakau (Nicotiana sp.). Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh besar negara produsen daun tembakau. Kontribusi Indonesia sekitar 15.000 ton daun tembakau atau 2,3% suplai dunia. Pengusahaan tembakau di Indonesia sebanyak 98% adalah perkebunan rakyat dan 2% adalah perkebunan besar nasional. Menurut jenisnya, sebanyak 75% (173.695 ha) merupakan tembakau rakyat (rajangan). Sebanyak 43,6% (101.095 ha) ditanam di Jawa Timur dan 26,7% (61.925 ha) di Jawa Tengah, dan sisanya adalah di NTB, DIY, dan Bali. Sebanyak 30% tembakau rakyat (rajangan) digunakan sebagai bahan baku rokok kretek (Deptan, 2002). Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki area paling luas untuk tanaman tembakau serta merupakan provinsi paling berpotensi untuk mengembangkan tanaman tembakau dilihat dari kondisi geografis, iklim, serta cuacanya. Salah satu kabupaten penghasil tembakau di Jawa Timur adalah Bondowoso. Berdasarkan data Bondowoso dalam Angka, luas areal perkebunan tahun 2011 seluas 28.777,78 Ha, yang terdiri dari tanaman tebu, kopi, tembakau, kelapa, pinang, kapuk randu, jambu mete, dan cengkeh. Produksi tembakau rajangan paling tinggi di Kecamatan Maesan, sebesar 1.311 ton dengan luas areal 1900 Ha. Mayoritas penduduk di Kecamatan Maesan menanam tembakau. Kecamatan Maesan merupakan salah satu sentra tembakau yang hasilnya digunakan sebagai pengisi rokok. Bondowoso memiliki dua varietas unggul tembakau rajangan, yaitu Maesan 1 dan Maesan 2. Kedua varietas unggul tersebut diresmikan pada tahun 2011, dan telah dibudidayakan tahun 2012. Selain karena merupakan varietas yang baru saja diresmikan, tembakau tersebut baru dikenalkan kepada seluruh masyarakat Bondowoso khususnya yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bondowoso. Petani lebih memilih untuk membudidayakan tembakau Maesan 2 karena tembakau Maesan 2 memiliki bobot lebih berat daripada Maesan 1 dan memiliki randemen lebih tinggi yaitu sekitar 1-16. Oleh karena itu petani berpikir bahwa lebih menguntungkan membudidayakan tembakau Maesan 2. Jumlah petani yang menanam tembakau Maesan 2 lebih banyak daripada yang menanam Maesan 1.

Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pendapatan usahatani tembakau Maesan 2 di Desa Gunungsari Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso; (2) efisiensi penggunaan biaya produksi pada usahatani tembakau Maesan 2 di Desa Gunungsari Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso.

download artikel selengkapnya : ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI BIAYA USAHATANI TEMBAKAU MAESAN 2 DI KABUPATEN BONDOWOSO

Prof. Hermanto Siregar : ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN PROPINSI JAWA TIMUR MENJAWAB DINAMIKA GLOBAL

Indonesia menduduki peringkat ke-34 (dari 144 negara) dalam Global Competitiveness Report 2014-2015 – peringkat pada tahun sebelumnya adalah ke-38 (dari 148 negara) – berada pada tahap 2 (efficiency-driven*)

Konversi lahan ke non-Pertanian sekitar 113.000 ha per tahun. Pembukaan lahan pertanian baru lamban. Mayoritas petani bekerja di lahan sempit dengan rataan luas sekitar ¼ ha. Permintaan komoditas pertanian terus meningkat.

(Selengkapnya dapat didownload di web PERHEPI, di sini)

Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019

Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019 disusun sebagai perwujudan
amanah Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang saat ini memasuki tahap ke-3 (2015-2019) sebagai kelanjutan dari RPJMN tahap ke-2 (2010-2014) yang telah berakhir. RPJMN tahap ke-3 (2015-2019) difokuskan untuk memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan kompetitif perekonomian yang berbasis sumberdaya alam yang tersedia, sumberdaya manusia yang berkualitas dan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pentahapan RPJPN 2005-2025.

(Selengkapnya dapat didownload di website Kementerian Pertanian, di sini)

STRATEGI INDUK PEMBANGUNAN PERTANIAN 2013-2045

Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 disusun sebagai bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi untuk mewujudkan Indonesia yang Bermartabat, Mandiri, Maju, Adil dan Makmur paling lambat pada tahun 2045 yakni, setelah 100 tahun Indonesia merdeka yang dipandang sebagai momentum dalam membangkitkan semangat dan memobilisasi sumberdaya nasional guna mewujudkan cita-cita luhur seperti yang diamanatkan oleh konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). SIPP merupakan kesinambungan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Indonesia belum pernah menyusun rencana atau strategi induk pembangunan jangka panjang pertanian.

SIPP disusun sebagai arahan sekaligus acuan bagi seluruh komponen bangsa sehingga seluruh upaya pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi dalam satu pola sikap dan pola tindak dalam mewujudkan konsensus visi, misi, dan arah pembangunan, khususnya pembangunan pertanian.

(selengkapnya dapat didownload di web Kementerian Pertanian, di sini).

Analisis Kelayakan pada Usahatani Kopi Rakyat di Kabupaten Jember

Feasibility Analysis in Smallholder Coffee Farming in Jember District

Apriyanto Dwi Laksono,  Joni Murti Mulyo Aji,  Julian Adam Ridjal

ABSTRACT

District Jember is one district that has high production of coffee in the Province of East Java. Coffee farming many sought by governments , private  and smallholder. Smallholder coffee farming still used traditional method, it needs more research according Financial analysis needs to be performed  to know  the financial viability of smallholder coffee farming. Cost of coffee farming was influenced by kinds of farming activities, therefore it needs to observe the technic viability. This research is conducted in Sidomulyo Subdistrict and Kemiri Subdistrict , Jember District based on purposive method. Purposive sampling has been used to determinate target group including Sidomulyo Farmer Group I and LMDH Taman Putri and continued with total sampling methods, in this research’s samples used 45 farmers . This investigation used descriptive and analitic analysis and using primary and secondary data. ARR value is higher than discount rate around 187.35%. Smallholder coffee in Jember District has NPV approximately Rp 12,177,566.27. IRR value from smallholder coffee in Jember District was 13.54%, this value is higher than discount rate in the research period. Smallholder coffee in Jember District has net B/C value 1.24 and gross B/C value 1.17 (those value is more than one). Payback period  from smallholder coffee in Jember  District, if it use NPV value is 11 years 1 month and 8 days and if it use net benefit value is 7 years  5 months 2 days, this period is faster than coffee productive period. Based on that description, can be said that smallholder coffee  in Jember District is viable in terms of financial sector. In terms of technical viability depand on some factor including  location, total production area, technology used, production layout, and on farm in smallholder coffee farming. In an average, those factors has completed  minimum standards of smallholder coffee farming.
Keywords: viability, financial, technical

download file selengkapnya disini.

MENELUSURI TATA NIAGA KEDELAI DI JEMBER

Menelusuri Tata Niaga Kedelai di Jember

Pemerintah dianggap salah membuat kebijakan

SumbersariKebijakan mengenai pemberian bibit kedelai gratis kepada petani seharusnya mendapatkan evaluasi ulang. Hal itu terjadi, karena tidak semua wilayah akan cocok dengan bibit kedelai yang diberikan gratis oleh Pemerintah itu. Sehingga yang lebih diperlukan adalah subsidi harga bibit kedelai.

berita-kedelai_1_

berita-kedelai_2_

Berita selengkapnya dapat didownloadberita 1 dan berita 2 (dalam bentuk scan picture dari berita)