Skip to toolbar

Tulisan dari Prof. Dr. Ir. Rudi Wibowo, MS. (Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember) tentang Pertanian, Pangan dan Enerji :Menuju Kedaulatan Bangsa yang Berdaya Saing

PERTANIAN, PANGAN DAN ENERJI :

MENUJU KEDAULATAN BANGSA YANG BERDAYA SAING

 

Prof. Dr. Ir. Rudi Wibowo, MS

Guru Besar Ekonomi Pertanian, Universitas Jember

 

Kuliah Umum Perdana, Pascasarjana Universitas Jember

Jember, 7 September 2013

 

Pertanian dan Jati Diri Bangsa

Dalam   konteks   berbangsa   dan   bernegara,   ada   sejumlah   persoalan mendasar  yang  dihadapi  menuju  masa depannya.  Dua  masalah  kritikal yang ingin saya ketengahkan adalah pertanian (dan pangan) dan enerji.
Pertanian dalam konteks pangan, memiliki fungsi dan peran kunci dalam melanggengkan kehidupan umat manusia yang jumlahnya makin meningkat pesat. Intinya, pertaniandan pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat asasi. Demikian asasinya pangan bagi kehidupan masyarakat, sehingga ketersediaannya harus dapat dijamin dalam kuantitas dan kualitas yang cukup bagi pemenuhan aspirasi humanistik masyarakat, yaitu hidup yang maju, mandiri, dalam suasana tenteram, serta sejahtera lahir dan batin.  Oleh karena itu, kecukupan pangan bagi suatu bangsa merupakan hal yang sangat strategis. Dalam lingkungan strategis yang sangat dinamis, maka berbagai komoditas pertanian dan pangan menjadi semakin strategis bagi suatu bangsa. Ketidakpastian dan ketidakstabilan produksi pangan suatu negara, tidak serta merta dapat secara otomatis mengandalkan pemenuhannya pada ketersediaan pangan di pasar dunia. Alasan mendasar inilah yang seringkali menjadi sangat penting bagi sebagian besar negara-negara, termasuk Indonesia, untuk menetapkan Politik Pertanian dan Pangannya bagi kesejahteraan penduduknya. Selain pangan, di masa depan pertanian juga mempunyai tugas untuk memenuhi kecukupan pasokan enerji terbarukan (renewable energy) bagi kepentingan konsumsi industri yang tumbuh berkembang dengan pesat. Kita semua mengetahui, saat ini dinamika enerji dunia berbasis bahan bakar minyak bumi sebagai enerji tak terbarukan (non renewable resources) menghadapi krisis akibat keterbatasan pasokan.

 Dengan dampak negatif berupa global warming sebagai akibat CO2 dan ketidakteraturan musim dan curah hujan serta perusakan lingkungan hidup, maka peningkatan peran pertanian dalam hal enerji terbarukan bagi dunia menjadi sangat penting dan mendesak di kemudian hari. Biofuel (bioethanol) dari hasil pertanian (tebu, jagung, ubikayu, dan lainnya) adalah beberapa primadona enerji terbarukan. Potensi kita sangat besar di bidang itu, dan dapat menjadi sumber pertumbuhan di kemudian hari1. Beberapa negara maju dan berkembang seperti Amerika Serikat dan Brazil telah mengembangkan enerji tersebut secara efektif sebagai sumber enerji terbarukan. Intinya, gambaran pertumbuhan penduduk dunia di satu sisi dan keterbatasan sumberdaya alam di lain pihak tersebut, telah menjadikan pertanian dan pangan serta enerji sebagai bagian penting politik pembangunan negara-negara di dunia. Tidak ada yang memungkiri, bahwa tersendatnya berbagai putaran pertemuan WTO senantiasa diakibatkan persoalan pangan dan enerji, terutama antar negara maju dan negara berkembang.

…file selengkapnya dapat didownload di-link bawah ini :

Download Artikel : Pertanian, Pangan dan Enerji :Menuju Kedaulatan Bangsa yang Berdaya Saing