Skip to toolbar

Analisis Pendapatan dan Efisiensi Biaya Usahatani Tembakau Maesan 2 di Kabupaten Bondowoso

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI BIAYA USAHATANI TEMBAKAU MAESAN 2 DI KABUPATEN BONDOWOSO

Erryka Aprilia Putri, Anik Suwandari, Julian Adam Ridjal

Abstract

Maesan District is the largest tobacco producer in Bondowoso. The number of tobacco’s rajangan production in Maesan District is 1,311 tons with a total area of 1900 ha. The majority of residents in the Maesan District are planting tobacco. The largest tobacco producer in Maesan District is Gunungsari Village. Types of tobacco plantation in the Gunungsari Village are Tobacco Maesan 2. The study was conducted in the Gunungsari Village Maesan Regency intentionally (purposive method). The sampling method used in this research is the purposive sampling with 30 respondents. The datas used are primary data and secondary data. The analytical methods used are: (1) the analysis of income, and (2) the analysis of R / C ratio. The results shows that: (1) Maesan 2 tobacco farming in the Gunungsari Village Maesan District Bondowoso is beneficial to farmers, with the average income received by the farmers was Rp 12.387.619,90/ha/season; (2) The use of Maesan 2 tobacco farming costs production in the Gunungsari Village, Maesan District Bondowoso has been efficient, with the average of R/C ratio is more than one that is equal to 1.81

PENDAHULUAN

Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan paling konsisten, baik ditinjau dari areal maupun produksi. Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, misalnya dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto. Menurut Maulidah dan Suryawijaya (2010), perkebunan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peran yang cukup besar dalam perekonomian negara Indonesia. Pada tahun 1994-1995, subektor perkebunan telah menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non migas. Salah satu komoditas andalan perkebunan Indonesia adalah tembakau (Nicotiana sp.). Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh besar negara produsen daun tembakau. Kontribusi Indonesia sekitar 15.000 ton daun tembakau atau 2,3% suplai dunia. Pengusahaan tembakau di Indonesia sebanyak 98% adalah perkebunan rakyat dan 2% adalah perkebunan besar nasional. Menurut jenisnya, sebanyak 75% (173.695 ha) merupakan tembakau rakyat (rajangan). Sebanyak 43,6% (101.095 ha) ditanam di Jawa Timur dan 26,7% (61.925 ha) di Jawa Tengah, dan sisanya adalah di NTB, DIY, dan Bali. Sebanyak 30% tembakau rakyat (rajangan) digunakan sebagai bahan baku rokok kretek (Deptan, 2002). Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki area paling luas untuk tanaman tembakau serta merupakan provinsi paling berpotensi untuk mengembangkan tanaman tembakau dilihat dari kondisi geografis, iklim, serta cuacanya. Salah satu kabupaten penghasil tembakau di Jawa Timur adalah Bondowoso. Berdasarkan data Bondowoso dalam Angka, luas areal perkebunan tahun 2011 seluas 28.777,78 Ha, yang terdiri dari tanaman tebu, kopi, tembakau, kelapa, pinang, kapuk randu, jambu mete, dan cengkeh. Produksi tembakau rajangan paling tinggi di Kecamatan Maesan, sebesar 1.311 ton dengan luas areal 1900 Ha. Mayoritas penduduk di Kecamatan Maesan menanam tembakau. Kecamatan Maesan merupakan salah satu sentra tembakau yang hasilnya digunakan sebagai pengisi rokok. Bondowoso memiliki dua varietas unggul tembakau rajangan, yaitu Maesan 1 dan Maesan 2. Kedua varietas unggul tersebut diresmikan pada tahun 2011, dan telah dibudidayakan tahun 2012. Selain karena merupakan varietas yang baru saja diresmikan, tembakau tersebut baru dikenalkan kepada seluruh masyarakat Bondowoso khususnya yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bondowoso. Petani lebih memilih untuk membudidayakan tembakau Maesan 2 karena tembakau Maesan 2 memiliki bobot lebih berat daripada Maesan 1 dan memiliki randemen lebih tinggi yaitu sekitar 1-16. Oleh karena itu petani berpikir bahwa lebih menguntungkan membudidayakan tembakau Maesan 2. Jumlah petani yang menanam tembakau Maesan 2 lebih banyak daripada yang menanam Maesan 1.

Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pendapatan usahatani tembakau Maesan 2 di Desa Gunungsari Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso; (2) efisiensi penggunaan biaya produksi pada usahatani tembakau Maesan 2 di Desa Gunungsari Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso.

download artikel selengkapnya : ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI BIAYA USAHATANI TEMBAKAU MAESAN 2 DI KABUPATEN BONDOWOSO